"Belajar Memahami Kehidupan untuk Hidup yang Lebih Baik Lagi"

BTemplates.com

Pages

Selasa, 26 Juni 2018

MODAL UNTUK MEMBELI KEBAHAGIAAN DARI ALLAH




     Pernah saya mendengar sebuah nasehat tentang kehidupan kita. Perlunya bagi kita untuk berfikir mengenai apa yang telah kita jalani dalam kehidupan ini, apa yang akan kita lakukan pada hari esok, dan bekal apa yang sudah kita siapkan untuk masa-masa yang akan datang. Kurang lebihnya nasehat tersebut sebagai berikut:

JANGAN SALAH BERFIKIR


Sebagai makhluk Allah SWT yang diciptakan sebagai khalifah di bumi, kita diwajibkan untuk melakukan tugas yang memang diberikan untuk kita yaitu “beribadah”.banyak macam cara ibadah kita kepada-Nya sebagai bentuk pengabdian seorang makhluk kepada Tuhannya. Bahkan ada pula salah satu dari perbuatan kita (perbuatan baik tentunya) yang kita sendiri tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah, karena perbuatan tersebut hanya hal biasa menurut sudut pandang kita sebagai manusia, akan tetapi Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui menilai lain atas apa yang kita lakukan.

Kamis, 31 Mei 2018

Andai Kuburan Bisa Berbicara


 Sobat caber yang haus akan keilmuan. Kini kita kan membahas mengenai suatu tempat di mana ketika nama tempat tersebut disebut, maka yang akan timbul dalam benak pemikiran kita adalah tempat yang sepi, gelap, dan menakutkan. Yah, itulah “kuburan” atau tempat pemakaman.
“Andai Kuburan Bisa Berbicara”. Judulnya kurang lebih seperti itu, karena ini berisi tentang nasehat yang bisa dibilang seolah-olah dia (kuburan) itu yang berbicara. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa setiap harinya kuburan atau tanah makam berseru kepada kita manusia yang masih hidup sebanyak 5 kali. (apa iya yaa……) lanjut aja bacanya.
Pertama ia berkata : “Aku adalah Rumah Kesepian, maka Jadikanlah Bacaan Al-Qur’an Sebagai Temannya”. 
Kita semua tahu, bahwa yang namanya orang meninggal trus dimakamkan pastinya ia sendirian, gak ada yang mau nemenin ia tidur di sana. Walaupun ketika ia hidup di dunia, menjalin cinta dengan kekasih atau pasangannya sampai berjanji sehidup semati, se-iya se-kata, namun itu hanya sebatas ketika ia masih hidup saja. Ketika ia sudah wafat, sudah, hilanglah cintanya itu. Lagi pula siapa yang mau menemani orang yang sudah wafat di pemakaman. Yang ada malah kita yang niatnya menemani justru kita lah yang kesepian. Oleh karenanya Islam mengajarkan agar kita memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar kelak ketika kita kesepian ia akan datang menemani kita yang sedang sendirian.
Kedua ia berseru: “Aku adalah Rumah yang Gelap, maka Jadikanlah Sholat malam sebagai Penerangnya”. 
Selain sepi, kuburan juga merupakan tempat yang gelap. Walaupun sekarang ini para juru kunci di kebanyakan tempat pemakaman sudah memasang penerang berupa lampu-lampu yang menyala setiap malamnya. Namun itu hanyalah penerang di dunia kita, manusia yang masih hidup di dunia, mereka yang berada dalam kuburan sudah berbeda dunia dengan kita, lagi pula dikubur pun juga tertutup oleh tanah yang kurang lebih tebal/tingginya timbunan tanah itu tidak mungkin dapat ditembus oleh cahaya lampu penerang yang ada di atasnya. Sholat malam yang kita lakukan ketika kita masih hidup, itulah yang dapat menerangi kita disaat kita berada dalam gelapnya liang lahat.
Seruan ketiganya yaitu: “Aku adalah rumah yang beralaskan dengan tanah atau debu, maka Jadikanlah Amal Sholeh sebagai Alasnya”. Orang yang meninggal dunia dari semua elemen pangkat manusia, semuanya sama beralaskan dengan tanah. Mulai dari pengamen sampai presiden, orang-orang mlarat sampai konglomerat, petani sampai TNI, santri sampai Kiyai, semuanya ketika dikuburkan dalam kuburan tidak beralas dengan benda apapun, mulai dari tikar, karpet, kasur atau bahkan spring bad. Kita dituntun untuk memperbanyak amal sholeh ketika nyawa masih dalam jasad kita, agar nantinya amal sholeh yang kita lakukan akan dapat memberikan pertolongan kepada kita saat kita membutuhkan pertolongan di mana tidak ada seorang pun yang dapat menolong selain amal yang kita lakukan.
Yang keempat, ia berseru: “Aku adalah rumah tempat ular yang besar dan berbisa (ular suja’), maka jadikan bacaan bismillaahirrohmaanirrohiim sebagai penawarnya dan menangislah karena takut kepada Allah SWT”.  
 
Memang secara logika mana mungkin ular besar bisa ada bersama kita ketika sudah dimakamkan dalam kuburan , namun hal tersebut perlu kita yakini karena terkait dengan alam yang berbeda dengan alam atau dunia kita yang mana tidak bisa kita lihat secara kasap mata. Oleh karenanya kita sebagai umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak lafadz basmalah dan juga banyak menangislah karena takut kepada Allah, menangis karena maksiat yang selalu kitaperbuat, penyesalan akan dosa-dosa yang pernah kita lakukan, menangis karena mengharap ridho dan ampunan dari-Nya. Itu semua agar nantinya dapat menjadi penawar untuk kita ketika menghadapi ular syuja’.
Terakhir, seru kubur kepada manusia: “Aku adalah rumah pertanyaan munkar nakir, maka perbanyaklah membaca لا اله الا الله محمد الرسول الله agar kita bisa menjawab pertanyaan munkar dan nakir tersebut”. Kita semua tahu dan hapal sejak kecil bahwa malaikat yang nantinya akan menanyai dalam kubur adalah malaikat munkar dan nakir. من ربك dan lain sebagainya, adalah pertanyaan yang nantinya akan dilontarkan kepada kita. Bukan sebuah jaminan kita di dunia sudah tahu bocoran pertanyaan yang nantinya akan diajukan kepada kita, dan kita tahu serta hapal benar dengan jawaban yang benar, namun ketika nanti tiba waktunya والله اعلم kita semua tidak tahu apapun tentang hal yang akan terjadi. Kita hanya diberi anjuran untuk memperbanyak berdzikir dengan لا اله الا الله محمد الرسول الله yang semoga wasilah dzikir tersebut kita diberi kemudahan untuk menjawab pertanyaan munkar dan nakir.
Intinya para sobat caber semua, sedia paying sebelum hujan (nyambung gak ya…), kita haruslah bersiap-siap untuk kehidupan kita setelah masa aktif nyawa kita habis untuk berada di dunia ini. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita, untuk menghadap kepada Allah Tuhan Yang maha Esa, guna mempertanggungjawabkan perbuatan kita selama hidup di dunia. So, jangan bosan untuk beramal sholeh

Rabu, 04 Oktober 2017

Belajar Bersosial




IAIN Metro (dulu STAIN Jurai Siwo Metro) adalah kampus tempatku menapakkan kaki dalam rangka menimba ilmu, mencari sahabat dalam rangka silaturrahmi, dan yang paling utama mencari ridho-Nya dalam rangka mempersiapkan bekal untuk masa yang akan datang.


Foto ini adalah foto ketika kami melaksanakan KMD (Kursus Mahir tingkat Dasar) selain sebagai kegiatan Ujian Akhir Semester (UAS) MK pramuka juga itu bermanfaat juga untuk bekal kami nantinya ketika menjadi seorang pendidik.


Ini adalah salah satu dokumentasi gambar dari beberapa kegiatan yang pernah kami ikuti seperti seminar, workshop, dan lain sebagainya.
Itu secuil kata-kata yang mungkin jika dipikir oleh anda para pembaca yang luar biasa hanyalah kalimat yang bobotnya sangat jauh sekali dibandingkan dengan cerita karangan anak SD. Tapi inilah pribadi kami, yang masih dalam proses belajar, yang selalu membutuhkan bimbingan, arahan, teguran ketika salah, dan hiburan ketika jenuh.

Kamis, 24 Agustus 2017

Belajar Untuk Sadar Diri




     Ini sebenarnya bukanlah nasehat dari diri saya pribadi, karena saya mendapatkannya pada saat membaca tulisan sekilas yang ternyata setelah saya pikir dan coba untuk renungkan memang kata-kata itu sangat-sangat perlu untuk direnungkan serta dilaksanakan agar menjadi diri yang lebih baik lagi. Langsung saja kita baca, pikirkan, dan renungkan dalam hati kita kemudian kita cari jalan terbaiknya untuk kita dan kita berusaha lagi untuk jadi lebih baik.

     Banyak di antara kita khususnya pelajar yang kurang tepat dalam menempatkan posisi "belajar" dalam kehidupan kita masing-masing. Ada yang menyatakan bahwa sekolah itu hanyalah sebagai formalitas belaka, artinya mereka yang menganggap seperti itu berangkat belajar atau sekolah hanya agar tidak merasa malu melihat teman atau tetangganya sekolah atau karena orang tuanya lulusan S1 masak anaknya hanya lulus SD oleh karena itu anak-anak mereka akhirnya terus disekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi, atau juga bersekolah karena gengsi zaman sekarang sudah zaman yang modern eh sudah putus sekolah dan tidak melanjutkan belajar (sekolah) lagi. Ada ungkapan yang sering kita dengar ketika ada siswa baru baik di tingkat SD, SLTP, SLTA, atupun perguruan tinggi yang mana pada saat ditanya kenapa sekolah di sini? Rata-rat jawaban dari pertanyaan tersebut adalah "ya karena temen-temen pada sekolah di sini jadi ya ngikut-ngikut saja." Dari ungkapan tersebut seolah-olah sekolah itu hanya sebagai penyetaraan diri terhadap teman-temannya.
      Selain itu ada juga yang menyatakan bahwa belajar adalah kewajiban bagi kita, katanya "Tholabul 'Ilmi Faridhotun 'Ala Kulli Muslim" (Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam) dan kita sebagai orang Islam apabila tidak menuntut ilmu maka akan mendapatkan dosa. Maka dari itu ada istilah wajib belajar 9 tahun atau wajib belajar 12 tahun bahkan di dalam Islam ada juga ketentuan masa belajar yaitu dari sejak lahir hingga masuk kedalam liang lahad (kuburan), artinya mulai dari buaian ibu hingga kita kembali kepada Allah SWT itulah waktu untuk kita mencari ilmu.
     Yang terakhir dan ini yang menurut saya tepat sebagai penempatan belajar dalam kehidupan kita yaitu belajar merupakan salah atu kebutuhan kita dan yang namanya kebutuhan pastilah wajib untuk dipenuhi, lain halnya dengan keinginan yang mana itu merupakan hal yang perlu kita pilah dan pilih mana keinginan yang harus kita penuhi untuk kebaikan kita dan mana keinginan yang tidak perlu kita penuhi (tidak harus). Sebagai khalifah di bumi sudah seharusnya kita mempunyai ilmu yang memadai untuk kelangsungan hidup kita atau demi mengemban tugas yang telah diberikan Allah SWT kepada kita tersesbut. Karena sebagai makhluk yang tidak hanya dikaruniai nafsu saja tetapi juga didampingi dengan akal dan perasaan, maka kita amat sangatlah dianjurkan untuk mengasah akal pikiran kita dengan jalan belajar belajar dan terus belajar guna mengendalikan nafsu agar tidak melakukan hal-hal yang salah.
      Jadi, marilah kita berlomba-lomba dalam menghilangkan kebodohan dalam diri kita dengan belajar, baik belajar ilmu umum terlebih-lebih ilmu agama agar kita semua dapat menggapai kebahagiaan di dunia hingga kelak di akhirat.
"Jika belajar masih dianggap sebuah kewajiban bagi kita, maka akan banyak godaan dan timbul rasa enggan (alias terpaksa saat diberikan diinstruksi). Lalu bagaimana caranya agar belajar kita jadikan sebagai suatu kebutuhan sehingga kita yang melakukannya pun menjadi enjoy dan merasa rugi jika banyak waktu terbuang bukan untuk belajar"